DISASTER RESCOVERY PLANNING


DISASTER RESCOVERY PLANNING

Abstrak

Disaster Recovery Planning merupakan  serangkaian  kegiatan  yang  bertujuan

untuk mengurangi kemungkinan dan  membatasi  kerugian  akibat  bencana  pada

proses bisnis yang  penting.  Bencana  yang  dimaksud  bisa  berupa  banjir,

kebakaran, gempa bumi, ataupun  virus,  kegagalan  harddisk,  serangan  dari

cracker, dan lain sebagainya. Tentunya bencana seperti ini sangat  mengancam

data atau informasi perusahaan atau perorangan. Untuk itu, hal-hal apa  saja

yang perlu diperhatikan di dalam proses disaster recovery planning atau hal-

hal apa saja yang perlu ada di dalam disaster recovery plan  ?  Makalah  ini

akan memfokuskan pembahasan elemen-elemen utama  dan  pendukung  yang  harus

diperhatikan pada disaster recovery planning.

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa  memberikan

kekuatan  dan  petunjuk  kepada  kami  sehingga  tugas  makalah  ini   dapat

diselesaikan tepat pada waktunya. Selanjutnya  Penulis  menyampaikan  terima

kasih  nara sumber yg memudahkan kami untuk membuat makalah ini, Penulis

menyadari tugas ini masih jauh dari sempurna, untuk  itu  kritik  dan  saran

sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

1. Pendahuluan

Sudah tidak perlu dibuktikan  lagi  bahwa  setiap  orang  pasti  membutuhkan

informasi dalam menjalankan dan mengembangkan  usahanya.  Oleh  karena  itu,

kebutuhan akan informasi merupakan kebutuhan yang tidak akan  pernah  habis-

habisnya. Saking pentingnya, informasi yang ada akan selalu disimpan  dengan

baik, dan akan digunakan ketika waktunya tiba  atau  akan  selalu  digunakan

sepanjang  karier  hidup  manusia.  Bisa  dibayangkan  bila  informasi  yang

berharga bagi karier hidup kita tersebut tiba-tiba lenyap tanpa  bekas.  Apa

reaksi kita ? Ya, tentu saja panik, marah, atau kehilangan  semangat  karena

merasa apa yang telah dikerjakan selama ini sia-sia.

Contoh yang paling sederhana, ketika kita sedang membuat  tugas  yang  cukup

banyak di komputer, tiba-tiba harddisk komputer kita crash  dan  data  tugas

tersebut belum di-backup sama sekali. Tentu saja,  kita  akan  dengan  kesal

ngomel-ngomel. Apa yang dapat kita lakukan ? Karena  kita  sebelumnya  tidak

mempersiapkan proses pemulihan atau  backup  data,  tentu  saja  kita  harus

mengulang dari awal membuat tugas tersebut.  Namun  hal  itu  masih  sepele.

Bagaimana bila kita seorang pemilik perusahaan yang menyimpan data  konsumen

dan data pekerjaan hanya pada sebuah ruangan di perusahaan,  lalu  tiba-tiba

saja terjadi kebakaran pada perusahaan yang menyebabkan semua data yang  ada

di dalam  gedung  terbakar  habis.  Apa  reaksi  kita  ?  Menangis  ?  Ingin

melarikan diri dari kehidupan ? Ya, itu risiko yang haus dihadapi bila  kita

tidak mempersiapkan rencana pemulihan data alibat bencana yang  tidak  dapat

diprediksi. Oleh  karena  itu,  implementasi  rencana  pemulihan  data  dari

bencana perlu dipikirkan dan dilakukan. Pada makalah ini,  pembahasan  topik

ini lebih diiarahkan ke elemen-elemen utama  yang  perlu  diperhatikan  pada

disaster recovery planning.

2. Apa Itu Disaster ?

Disaster (bencana)  didefiniskan  sebagai  kejadian  yang  waktu  terjadinya

tidak  dapat  diprediksi  dan  bersifat  sangat  merusak.   Pengertian   ini

mengidentifikasikan sebuah kejadian yang memiliki empat faktor utama,  yaitu

:

– tiba-tiba

– tidak diharapkan

– bersifat sangat merusak

– kurang perencanaan

Bencana  terjadi  dengan  frekuensi  yang  tidak  menentu  dan  akibat  yang

ditimbulkannya meningkat bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri  terhadap

kemungkinan-kemungkinan timbulnya bencana. Rencana pencegahan dan  perbaikan

terhadap bencana dapat membantu melindungi semua adet oraganisasi,  termasuk

sumber daya manusia, pekrjaan, data-data penting, dan fasilitas organisasi.

Cakupan  bencana  tidak  hanya  terbatas  pada  hilangnya  data  dan  sumber

informasi,  tetapi  juga  kematian  dari  pekerja  yang  sangat  diandalkan,

keracunan produk, meledaknya sistem peralatan, kebakaran yang  terjadi  pada

pusat distribusi utama, atau tumpahnya cairan kimia,  dan  lain  sebagainya,

sangat mempengaruhi  suatu  organisasi.  Tabel  berikut  memberikan  contoh-

contoh penyebab terjadinya bencana.

Tabel 1  Beberapa Penyebab Terjadinya Bencana

Penyebab Terjadinya Bencana

–         kebakaran

–         badai

–         banjir

–         perubahan suhu dan kelembaban yang sangat

–         ekstrim

–         gempa bumi dan tanah longsor

–         kecelakaan pesawat, kendaraan, dll.

–         virus komputer

Rencana pencegahan dan pemulihan dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak-

pihak tertentu dengan menambahkan biaya-biaya yang  tidak  perlu  yang  akan

membuat rencana tersebut menjadi tidak  masuk  akal  bagi  level  manajemen.

Rencana yang dibuat harus mencakup definisi yang jelas dari  data-data  atau

record organisasi  yang  harus  dilindungi.  Hal-hal  yang  harus  dihindari

selama pembuatan rencana pemulihan  adalah  rekonstruksi  material  back-up,

kopi, dan file-file yang tidak penting.

Record-record organisasi atau perusahaan  memiliki  nilai  yang  bervariasi.

Apakah record tersebut tersimpan secara elektronik ataupun di  atas  kertas,

rencana  yang  dibuat  harus  mengidentifikasi  record-record  penting   dan

historis, yaitu record-record yang memuat sejarah  perusahaan,  pertumbuhan,

pengembangan, operasi, dan kontribusi  yang  bersifat  kenegaraan,  termasuk

record-record yang perlu  ditindaklanjuti  kekontinuitas  bisnisnya  setelah

bencana.  Daftar  record  penting  diperlukan  untuk   menentukan   prosedur

melindungi dan merekonstruksi  record-record  penting  yang  tersimpan  pada

media magnetik, optik, atau bentuk  lainnya  yang  berbeda  dengan  prosedur

melindungi informasi yang terkandung pada media kertas.

3. Disaster Recovery Plan

Disaster recovery plan merupakan program yang tertulis dan telah  disetujui,

diimplementasikan, serta dievaluasi secara periodik, yang  menfokuskan  pada

semua aksi yang  perlu  dilakukan  sebelum,  ketika,  dan  setelah  bencana.

Rencana ini disusun berdasarkan review secara menyeluruh  terhadap  bencana-

bencana yang potensial, yang mencakup lingkup fasilitas,  lokasi  geografis,

atau industri. Rencana ini juga merupakan  pernyataan  dari  tanggapan  yang

tepat untuk proses  pemulihan  yang  bersifat  efektif  terhadap  biaya  dan

cepat. Oleh karena itu, rencana yang  dibuat  haruslah  mengidentifikasi  di

mana, yang mana, dan bagaimana record-record dapat  diperoleh.  Review  yang

harus dilakukan mencakup pertimbangan dari berbagai hal di bawah ini :

. Apakah media magnetik, optik, atau microfilm,  disimpan  pada  kabinet

yang sesuai?

. Apakah ada peraturan melarang merokok di area-area tempat  penyimpanan

media kertas atau bahan-bahan kimia ?

. Apakah kotak atau kontainer record berserakan di lantai bahkan  selama

proses awal  berlangsung ?

. Apakah bahan-bahan  kimia,  termasuk  yang  digunakan  di  mesin-mesin

kantor, disimpan dengan cara yang tepat dan  pada  tempat  yang  tepat

sehingga bencana dapat dihindari atau diminimisasi ?

. Apakah peralatan elektrik dimatikan pada akhir hari ?

. Apakah perlu peralatan-peralatan  yang  ada  di  perusahaan  digunakan

untuk keperluan data rumahan ?

. dan lain-lain

4. Elemen Utama Yang Perlu Diperhatikan dalam Disaster Recovery Planning

Seperti  yang  telah  dijelaskan  sebelumnya,  disaster  recovery  merupakan

proses menjalankan kembali operasi bisnis  dan  merekontruksi  record-record

bisnis yang penting setelah bencana. Disaster recovery mengidentifikasi  dan

melindungi semua record penting,  baik  yang  terdapat  pada  media  kertas,

hardisk  komputer,  disk  optik,  dari  proses  penyelamatan  hingga  proses

rekonstruksi. Untuk keperluan ini, ada baiknya kalau  dibahas  elemen-elemen

utama pada disaster recovery planning. Elemen utama disaster  recovery  plan

dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu :

. elemen-elemen yang bersifat umum bagi semua aspek rencana

. elemen-elemen ketika operasi bisnis dijalankan lagi

. elemen-elemen ketika operasi penyelamatan dan pemulihan dilakukan

1. Elemen-Elemen Yang Bersifat Umum Bagi Semua Aspek Rencana

Dalam  rangka  disaster  recovery   plan   menjadi   efektif,   maka   perlu

diperhatikan elemen-elemen dasar  tertentu.  Selagi  deskripsi  aktual  dari

elemen-elemen tersebut  berubah  dari  satu  tempat  ke  tempat  yang  lain,

pengalaman menunjukkan bahwa masing-masing harus terdapat di  dalam  rencana

agar rencana yang efektif  dapat  dicapai.  Elemen-elemen  tersebut  sebagai

berikut :

. pernyataan kebijakan yang jelas  (clear  policy  statement),  mencakup

tujuan dan sasaran pemulihan;

. wewenang aktivasi (activation  authority),  yaitu  siapa  yang  berhak

memimpin tim rencana pemulihan;

. struktur tugas (task organization), mencakup tugas dan fungsi tiap tim

atau anggota tim pemulihan;

. tim pemulihan setelah bencana (disaster recovery team), yaitu  anggota

tim yang bertugas menjalankan  disaster recovery plan;

. layout organisasi (facility floor plan or layout), yaitu   tata  letak

tiap tempat dalam suatu oraganisasi atau perusahaan;

. prosedur distribusi informasi  (information  distribution  procedure),

merupakan metode  spesifik  untuk  mengontak  anggota  tim  pemulihan,

vendor, agen pendukung, supplier, dan semua pihak yang terkait;

. pemantauan kondisi yang berbahaya (monitoring of destructive area);

. traning  pekerja  (provision  for  training  of  employee),  merupakan

kegiatan untuk melatih para pekerja mengenai prosedur pemulihan;

. hal-hal lain seiring dengan jalannnya proses pemulihan (provision  for

ongoing review and revision).

2. Elemen-Elemen Ketika Operasi Bisnis Dijalankan Lagi

Kebanyakan organisasi, seperti rumah sakit, stasiun TV atau radio,  maskapai

penerbangan, harus melakukan  berbagai  operasi  selama  berjam-jam  setelah

bencana untuk mempertahankan konsumen  mereka  dan  kepercayaan  masyarakat.

Manajemen krisis berarti bersiap-siap terhadap kejadian yang  mengancam  dan

tidak diharapkan,  dan menyediakan kontinuitas  bisnis  selama  dan  setelah

kondisi krisis. Manajemen krisis memiliki  lingkup  yang  luas  dibandingkan

manajemen rekonstruksi informasi dan  usaha  penyelamatan  setelah  bencana.

Krisis bisnis diilustrasikan sebagai situasi yang  berbahaya  dan  mengancam

yang sedang menjalani hal-hal penuh risiko, seperti

. memperluas skala perusahaan;

. sedang di bawah pengawasan media dan pemerintahan;

. operasi bisnisnya kacau balau  dengan  sistem  dasar  organisasi

rusak.

Manajemen krisis seharusnya didelegasikan ke tim  manajemen  yang  ditunjuk,

yang telah menerima training  yang  diperlukan  sehubungan  dengan  bencana.

Manajer dan staf yang lain sebaiknya konsentrasi pada  usaha  untuk  menjaga

tanggung  jawab  bisnis  biasanya.  Terdapat  3  elemen  utama  yang   perlu

dipertimbangkan dalam manajemen krisis yang  merupakan  bagian  dari  proses

perencanaan terhadap bahaya yang terjadi :

. kesinambungan pimpinan (continuity  of  authority),  memastikan  bahwa

terdapat kepengurusan yang berkelajutan setelah terjadinya bahaya;

. perjanjian pemilihan  tim  manajemen  terhadap  bencana  yang  terjadi

(appointment  of   a   select   disaster   management   team),   untuk

mengidentifikasi, mengisolasi dan menanggapi  krisis yang terjadi;

. perjanjian mengenai orang yang harus  berbicara  kepada  publik  untuk

memberi  penjelasan  mengenai  kondisi   perusahaan   akibat   bencana

(appointment of an organization spokesperson).

3. Elemen-Elemen Ketika Operasi Penyelamatan dan Pemulihan Dilakukan

Penyelamatan dan pemulihan setelah bencana memerlukan tidak hanya  kedekatan

dengan tujuan, struktur, personel, operasi dan  record  yang  terorganisasi,

tetapi  juga  pengetahuan  prosedur  dan  teknik  pemulihan   yang   khusus,

fasilitas  komputer  dan  lokasi  kerja  alternatif,  sumber  sementara  dan

sukarelawan, pemasok lokal, agen-agen bencana lokal,  dan  daftar  konsultan

yang dapat diandalkan.

Elemen  utama  yang  harus  dipertimbangkan  di  dalam  mengembangkan  tahap

rekonstruksi dan penyelamatan dari disaster recovery plan adalah :

.  tim  pemulihan  setelah  bencana  yang  telah  mendapat  training  dan

disetujui oleh level manajemen (trained disaster recovery team);

. inventori record seluruh departemen atau organisasi,  termasuk  record-

record penting (inventory of all department records);

. tujuan lokasi operasi alernatif (designation of  alternative  operating

location);

. daftar prioritas pemulihan fungsi-fungsi  penting  (priority  list  for

restoration of essential functions);

. kontrak dan perjanjian dengan agen-agen yang khusus mengangani  bencana

(contracts and agreements with disaster support);

.  daftar  sumber  poternsial  yang  hendak  dipulihkan  (list  of  other

potential recovery resources);

. daftar perlengkapan dan  peralatan  organisasi  (list  of  organization

salvage equipment and supplies);

. cetak biru atau informasi bangunan, seperti :

. switch catu daya,

. sistem pengaturan air dengan valve.

5. Hal-hal Lain Yang Perlu Diperhatikan  Dalam  Menyusun  Disaster  Recovery

Plan

Berikut  adalah  daftar  hal-hal  lain  yang  perlu  dipertimbangkan  ketika

membuat Information Disaster Recovery Plan sebuah perusahaan :

. memastikan keamanan para pekerja dan pengunjung pada  lokasi  di  mana

mereka berada;

. melindungi record dan informasi penting;

. memastikan keamanan fasilitas dan lokasi-lokasi bisnis;

. memastikan ketersediaan material, perlengkapan, dan peralatan;

. mengurangi risiko bencana  yang  diakibatkan  oleh  kesalahan  manusia

atau kegagalan peralatan yang digunakan;

. data-data dan fasilitas  penting  lainnya  telah  ditata  dengan  baik

sehingga memudahkan proses pemulihan ketika bencana alam terjadi;

. memastikan kemampuan  perusahaan  untuk  melanjutkan  operasi  setelah

bencana;

. memulihkan record-record yang hilang atau rusak setelah bencana.

6. Informasi Yang Harus Ada Pada Disaster Recovery Plan

Pengetahuan tentang lingkup dan batasan disaster  recovery  plan  memastikan

harapan level manajemen itu bersifat realistik dan rencana memegang  peranan

penting di dalam memenuhi sasaran dan tujuan perusahaan.

Disaster recovery plan  harus  memuat  langkah-langkah  dan  aksi-aksi  yang

perlu dilakukan bila bencana  terjadi.  Sasaran  spesifik  perusahaan  perlu

tertulis pada disaster recovery plan. Secara umum, informasi  yang  terdapat

pada disaster recovery plan harus mencakup hal-hal berikut :

. mengidentifikasi dan memberi perlindungan yang cukup  terhaap  record-

record penting perusahaan atau program utama perusahaan;

. mengurangi risiko bencana yang diakibatkan oleh kesalahan manusia  dan

kegagalan peralatan atau gedung dengan  mengadakan  program  training,

pemeliharaan, dan sekuritas;

.  memastikan  kemampuan  organisasi  untuk  beroperasi  secara  efektif

setelah bencana dengan menerapkan kebijakan manajemen,  prosedur,  dan

sumber daya yang diaktivasi pada situasi bencana;

. memastikan kemampuan organisasi  untuk  merekonstruksi  informasi  dan

record-record yang rusak dengan cepat.

Informasi yang terdapat di dalam disaster recovery plan ditulis,  disetujui,

diimplementasikan, dan dievaluasi secara  periodik  untuk  mengidentifikasi,

melindungi, merekonstruksi, atau menyelamatkan catatan-catatan historis  dan

penting, serta membentuk prosedur pelaksanaan operasi bisnis ketika  bencana

terjadi.

7. Prasyarat Dalam Pembuatan Disaster Recovery Plan

Sebuah rencana untuk melindungi record bisnis  akan  menjadi  tidak  efisien

jika record-record yang dilindungi tersebut tidak memiliki  nilai  historis,

administratif, fiskal, penelitian, atau  hukum.  Untuk  merekonstruksi  atau

menyelamatkan informasi yang tidak  penting  sangatlah  membuang  waktu  dan

uang. Oleh karena itu, perlu diperhatikan  prasyarat  apa  saja  yang  perlu

dilakukan  sebelum  membuat  disaster  recovery  plan.  Prasyarat   tersebut

dijabarkan sebagai berikut :

Prasayarat 1: Informasi dipandang sebagai Sumber Daya Perusahaan

Perusahaan yang mengelola informasi  selama  siklus  hidup  informasi,  dari

pembuatan atau  perumusan  informasi,  sampai  ke  penggunaan,  penyimpanan,

pengambilan   kembali,   dan   pembuangan   informasi,   perlu   menempatkan

perencanaan terhadap bahaya di dalam program manajemen total perusahaan.

Prasyarat 2: Asuransi Yang Cukup

Disaster  recovery  plan  merupakan  bentuk  asuransi.  Proses   perencanaan

menganjurkan agar program  asuransi  bisnis  dimanfaatkan  untuk  melindungi

aset perusahaan dan menyediakan proteksi liabilitas. Program  ini  sebaiknya

telah diidentifikasi dan dilengkapi  proteksi  terhadap  risiko  dan  bahaya

tertentu. Disaster recovery plan mengidentifikasi  risiko  tertentu  seperti

terjadinya banjir data  pada  tempat  penyimpanan,  kebakaran,  badai,  yang

membahayakan record-record yang tersimpan secara elektrik.

Prasyarat 3: Program Record  Yang Penting

Pada saat terjadinya bencana, proses pemulihan dapat sangat  memakan  biaya.

Oleh karena itu, penting bila  record-record  yang  dilindungi,  dipulihkan,

direkonstruksi berisi informasi penting bagi kelanjutan operasi  perusahaan.

Identifikasi dan proteksi record-record yang penting  ini  merepresentasikan

area di mana program penyimpan record-record penting dan  disaster  recovery

plan saling overlap.

Prasyarat 4: Jadwal Penyimpanan Record

Program  penyimpan  record-record  penting   dibangun   berdasarkan   jadwal

penyimpan record yang terstruktur. Jadwal penyimpan record merupakan  daftar

yang memuat  record-record,  yang  mengindikasikan  serangkaian  waktu  yang

perlu dijalani di lingkup kantor, pusat data,  dan  kapan  informasi  record

ini dapat dihapus. Jadwal penyimpan record  harus  dibuat  sebelum  disaster

recovery plan. Jadwal ini  menyediakan  informasi  penting  mengenai  lokasi

record, media tempat penyimpanan record, metode proteksi, dan  nilai  record

individual.

Prasyarat 5: Sistem Klasifikasi dan Penggunaan Kembali Record

Record-record  yang  tidak  diklasifikasikan  dengan  baik   tentunya   akan

meningkatkan biaya disaster recovery planning.  Kendala  utama  adalah  pada

umumnya record-record belum dikelompokkan dalam unit file.

Prasyarat 6: Program Sekuritas Yang Cukup

Program sekuritas untuk fasilitas dan informasi menyediakan  kerangka  kerja

yang dapat dieksplorasi lebih lanjut pada pembuatan disaster recovery  plan.

Program sekuritas setidaknya memuat  proteksi  password  komputer,  proteksi

informasi para pekerja, pembatasan daerah akses,  detektor  asap,  dan  lain

sebagainya.

8. Perencanaan Yang Komprehensif Terhadap Disaster Recovery Plan

Sehubungan dengan bencana yang ada, terdapat berbagai  tipe  kerusakan  atau

kehilangan yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

. fasilitas  fisik  (gedung,  komputer,  inventori,  atau  tempat  kerja

rusak);

. akses ke fasilitas (ruang rahasia);

. informasi (komputer rusak, harddisk crash);

. akses ke informasi (tidak terdapat akses database secara remote);

. sumber daya manusia (produksi, manager, pendukung).

Disaster recovery  plan  yang  komprehensif  harus  mengalamati  semua  yang

diperlukan untuk mendukung operasi bisnis  yang  sedang  berjalan.  Hal  ini

berarti setiap elemen fisik, setiap  perangkat  lunak,  setiap  sumber  daya

manusia, dan setiap proses bisnis perlu dipelajari dan dialamati.  Informasi

operasi dan finansial juga perlu  dimasukkan.  Rencana  yang  efektif  mampu

mengenali semua bencana yang potensial, dimulai dari  perilaku  alam  hingga

teroris atau cyber-disasters.

Analisis berantai merupakan teknik yang  berguna  untuk  mengalamati  proses

pemulihan aset fisik perusahaan. Bagian rencana ini  seharusnya  mengalamati

bagaimana berhubungan dengan fasilitas penyimpanan  dan  manufaktur,  sistem

entri  pesanan,  pengepakan,  sistem  pembayaran,   suku   cadang,   layanan

konsumen, yang tidak tersedia. Karena waktu  merupakan  elemen  utama,  maka

perlu untuk mengurangi waktu pemulihan untuk  proses  dan  aplikasi  penting

hingga 24 jam atau kurang, dan untuk aplikasi yang kurang penting  hingga  4

hari.

Tiga tipe solusi yang  perlu  dipertimbangkan  sebagai  bagian  dari  proses

perencanaan, yaitu :

. perusahaan dapat membangun sistem yang  redundansi,  seperti  memiliki

dua buah pabrik yang terpisah lokasinya;

. melakukan perjanjian atau kerja  sama  dengan  pusat  data  sehubungan

dengan backup informasi penting

. mengasuransikan fasilitas-fasilitas tertentu sehingga dapat mengurangi

biaya ketika bencana terjadi

Biasanya perusahaan memilih untuk mengkombinasikan ketiga  solusi  di  atas.

Vendor peralatan merupakan bagian  yang  penting  lainnya.  Biasanya  vendor

memiliki peralatan, staf, sumber finansial yang cukup untuk membantu  dengan

cepat  ketika  bencana  terjadi.  Hal  penting  lainnya  sehubungan   dengan

disaster recovery plan adalah  keperluan  untuk  mensosialisasikan  disaster

recovery plan itu sendiri.

9.  Langkah-Langkah  Untuk  Mengatasi  Bencana  Sehubungan  Dengan  Disaster

Recovery Plan

Setelah disaster  recovery  plan  dibuat,  maka  perusahaan  telah  memiliki

pedoman untuk menghadapi bencana. Lalu bagaimana langkah-langkah yang  dapat

diambil untuk menghadapi bencana ? Berikut  diberikan  langkah-langkah  yang

dapat diikuti :

. mendapatkan wewenang untuk  menjalankan  disaster  recovery  plan  dan

membentuk anggota tim

. menyediakan training  dan  pendidikan  keselamatan  bagi  anggota  tim

seperlunya

. pada kondisi  bencana,  jalankan  prosedur  keselamatan  dan  evakuasi

dahulu

. membunyikan alarm tanda bahaya dan memberitahu layanan emergensi

. memberitahukan tipe bencana pada manajemen atas

. mulai memanggil anggota tim pemulihan terhadap bencana

. semua anggota,  level  manajemen,  dan  departemen  keselamatan  harus

memiliki kopi  denah  gedung  yang  memberitahukan  jalan  keluar  dan

perlengkapan keselamatan

. menaksir kerusakan

. mengimplementasikan prosedur untuk  melindungi  record-record  penting

pada lokasi masing-masing

. memberi tanda bagian-bagian yang rusak dan mengelompokkan bagian  yang

rusak dengan bagian yang tidak

. untuk bencana yang besar, lakukan  pertemuan  dengan  perusahaan  yang

khusus menangani pemulihan perusahaan akibat bencana

.  selanjutnya  membuat  perjanjian  dengan  perusahaan  tersebut  untuk

melakukan pemulihan

. melakukan pemulihan

10. Keuntungan Adanya Disaster Recovery Plan

Bagian  terakhir  dari  makalah  ini  membahas  keuntungan  dari   dibuatnya

disaster recovery plan. Adapun keuntungan yang didapat perusahaan adalah :

a. memperbaiki sistem proteksi terhadap aset penting perusahaan

b. membuat sistem proteksi informasi atau data-data  perusahaan  lebih

efektif

c. mengurangi risiko bencana akibat kesalahan manusia

d. memperbaiki manajemen perusahaan, dll.

Kesimpulan

Disaster recovery planning merupakan  serangkaian  kegiatan  yang  bertujuan

untuk mengurangi kemungkinan dan  membatasi  kerugian  akibat  bencana  pada

proses bisnis yang  penting.  Sedangkan  disaster  recovery  plan  merupakan

program  yang  tertulis  dan  telah  disetujui,   diimplementasikan,   serta

dievaluasi secara periodik, yang menfokuskan pada semua aksi  atau  prosedur

yang perlu dilakukan  sebelum,  ketika,  dan  setelah  bencana.  Format  dan

elemen  disaster recovery plan bervariasi dari disaster recovery  plan  yang

komprehensif untuk perusahaan multi-nasional  dengan  informasi,  sekuritas,

sistem bisnis yang kompleks, hingga disaster recovery plan untuk  perusahaan

kecil.  Dengan  adanya  disaster  recovery  plan   sebagai   pedoman   untuk

menghadapi bencana, maka perusahaan dapat menghadapi situasi  krisis  akibat

bencana dengan percaya diri dan terarah.

Pustaka

Toigo, J.W., Disaster Recovery Planning 3rd, USA, Prentice Hall, 2003.s

http://www.disasterrecoveryworld.com

http://www.disaster-recovery-guide.com

http://www.system.missouri.edu/records

http://www.disasterplan.com/yellowpages/tips.html

http://www.utoronto.ca/security/drp.htm

http://www.drj.com

About suhanda666


You must be logged in to post a comment.

%d blogger menyukai ini: